Sungai Nusantara

Dulu Aku Adalah Rumah

Aku dulu adalah sungai dengan air mengalir yang jernih, tenang, dan banyak anak-anak yang bermain. Mereka bermain dengan menebar jala kecil, menangkap ikan yang berada di sela-sela bebatuan, dan berenang ke sana kemari dengan bebas. Bagian tubuhku, tumbuh ganggang dan plankton dengan subur. Aku tidak hanya sekedar sungai mengalir, aku adalah rumah. 

Namun, dari waktu ke waktu semua cerita perlahan berubah.

Ladang-ladang semakin luas pada bagian hulu. Para petani menganggap rumput liar sebagai musuh dan menggunakan herbisida sebagai pembasmi menjadi jawaban yang cepat. Setiap pada musim tanam, tak terhitung butiran-butiran kimia yang ditebar, sebagai harapan tanah bersih dari hama. Tidak semua terserap oleh tanah, tidak semua bekerja sesuai dengan fungsinya, dan tidak semuanya tinggal di sana. Residu yang sedikit demi sedikit tersisa, tidak terikat, dan menunggu waktu terbawa air hujan ke badanku. 

Hujan turun mengguyur bumi, saat itu air hujan membawa partikel yang tak kasat mata masuk ke badanku. Ia mengalir di permukaan tanah, membawa banyak partikel sisa herbisida yang gagal terserap. Parit kecil, kolom sawah, aliran tipis di antara akar dan batu, semua bermuara padaku. Aku selalu menerima tanpa bisa menolak apa yang datang padaku.

Awalnya perubahan yang terjadi, tidak langsung terlihat. Airku masih terlihat jernih, masih banyak ikan yang tinggal di dalamku. Namun, semua itu seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Perlahan keseimbangan kehidupan yang ada di dalamku mulai goyah. Zat kimia yang masuk dan larut dalamku, mengganggu kehidupan mikroorganisme yang hidup. Fitoplankton yang sebagai produsen mulai berkurang. Tanaman air yang menyimpan oksigen mulai menguning sebelum waktunya. Ikan-ikan yang sebelumnya bergerak secara bebas perlahan melambat dan sebagian lagi kehilangan arah. 

Perlahan aku merasakan tubuhku berubah. Bagian dari diriku yang kaya oksigen, kini terasa semakin berat. Zat kimia yang masuk ke tubuhku memang tidak membunuh seketika, tetapi bekerja dengan pelan, mengganggu sistem biologis, merusak insang, dan mempengaruhi organisme yang menggantungkan hidupnya padaku. Ikan yang dulu bertelur dan menetas dengan mudah, kini banyak yang gagal berkembang satu per satu. Rantai makanan yang rapuh mulai terputus satu per satu. 

Banyak orang di tepiku yang mulai bertanya-tanya saat hasil tangkapan berkurang. Heran mengapa ikan yang hidup padaku tidak sebanyak dulu. Saat melihat airku mereka berkata, “Masih jernih, sepertinya baik-baik saja.” Padahal tidak semua pencemaran berwarna. Bisa saja ia tidak terlihat, tidak berbau, tetapi tetap saja melukai. 

Aku lelah dengan semua yang terjadi padaku

Menjadi tempat terakhir bagi sesuatu yang tidak diinginkan oleh daratan tidak semenyenangkan itu. Tanah yang sudah jenuh, residu yang tidak terserap menjadi bebanku. Bebanku yang terlalu berat, yang terdampak tidak hanya aku. Sawah yang bergantung pada airku, tambak dihilirku, dan bahkan laut yang menunggu aliranku. 

Aku adalah sungai yang memberi kehidupan, tetapi itu dulu. Aku menjadi saksi bagaimana demi kemudahan sesaat rela mengorbankan keseimbangan jangka panjang. Jika ditebar di tanah tanpa dipikirkan kembali, cara agar tak terlarut dan hanyut, agar aku masih bisa menyimpan kisah ikan yang melompat riang dan anak-anak bermain tanpa adanya rasa khawatir.

Aku mengalir sampai saat ini. Usahaku untuk membersihkan diri dengan waktu dan jarak. Aku hanya berharap, suatu hari nanti tidak hanya jernihku yang terlihat oleh manusia, tetapi ceritaku yang pelan telah terdengar, bahwa setiap residu yang tak terserap tanah, pada akhirnya menemukan jalannya kepadaku.

Aku tidak menginginkan manusia untuk berhenti bertani. Aku hanya berharap mereka dapat mulai untuk berpikir mengenai cara agar tanah tetap subur tanpa menjadikanku sebagai tempat penampungan terakhir dari sisa-sisa yang sudah tidak diinginkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top