Sungai Balantieng di Bulukumba mengalami pencemaran sedang akibat sampah plastik dan residu domestik, Pencemaran ini ditandai dengan minimnya keanekaragaman jenis serangga air. Pantauan Ecoton hanya menemukan 11 jenis serangga air dan tingginya kadar fosfat, Ecoton juga menemukan mikroplastik jenis fragmen, filamen, dan fiber. Kondisi ini mendorong lahirnya gerakan Sains warga untuk menjaga agar Balantieng tidak makin tercemar.
(5/8/2024) Pada suatu pagi yang dingin, saat kabut tipis masih menutupi lereng hulu Balantieng, sekelompok siswa berjalan menuruni bukit yang curam dan licin. Semakin menurun, semakin terdengar deru arus air. Mereka melangkah hati-hati menjaga sebuah box hitam—instrumen sains warga yang akan merekam kualitas air sungai. Tepat di jembatan bambu, sebuah pemandangan menawan terbentang, vegetasi rapat yang menghijau, batuan purba yang memecah aliran, dan awan yang berjajar di sela perbukitan, seolah merestui langkah kecil ini sebagai garda terdepan penjaga nadi kehidupan.
Seorang anak meletakan box hitam di atas sebuah batu, menatanya satu per satu. Tanpa intruksi berlebih, tangan-tangan mereka terampil menggunakan alat tersebut. Mereka telah berbagi tugas satu sama lain, ada yang mencatatan, memfoto dan menguji air dengan alat. Parameter mulai terbaca Total Dissolved Solid (TDS), suhu, Dissolved Oxygen (DO), PH, Nitrat, Nitrit dan Fosfat.
Sungai Balantieng mengalir sepanjang 53 KM, melintasi 37 desa dan 6 kecamatan di kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Menurut masyarakat setempat, nama Balantieng berasal dari kata ‘Balang’ artinya sungai/aliran air dan ‘Tieng’ artinya tiga. Sehingga Balantieng memiliki arti Sungai yang berasal dari tiga aliran air yakni Ere Lulua, Ere Bu dan Kaloro Larangan. Ketiga aliran inilah yang menjadi sumber mata airnya yang berasal dari Gunung Lompobattang dan Bawakaraeng. Aliran airnya dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian dan persawahan.
Kegiatan itu tidak hanyak dilakukan oleh sekolah SMPN Satap 13 Kahaya di hulu. Dua sekolah lain juga turut bersemangat dalam kegiatan pemantauan kualitas air di sana. Semangat tersebut menjalar ke segmen tengah yang rutin dipantau oleh Balantieng Warrior dari SMPN 40 Bulukumba hingga segmen Hilir di jaga oleh Sipaling (Siswa Peduli Lingkungan) dari SMPN 10 Bulukumba. Monitoring lintas sekolah ini memastikan bahwa setiap perubahan kualitas air di hulu akan terdeteksi hingga ke muara.
Namun, sains warga ini tidak berdiri sendiri. Di balik jerih payah para siswa, terdapat kelompok perempuan di pemukiman warga yang menjadi benteng pertama dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Mereka memastikan bahwa plastik dan limbah domestik tidak mencemari sungai Balantieng. Sinergi ini pun diperkuat oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bulukumba dalam keterlibatannya mendukung kegiatan ini.